• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Kamis, 29 Februari 2024

Dari Betawi

Mutiara Ramadhan dan Tujuh Kayfiyah dari Abuya KH Abdurrahman Nawi

Mutiara Ramadhan dan Tujuh Kayfiyah dari Abuya KH Abdurrahman Nawi
Istimewa
Istimewa

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Tidak banyak ulama Betawi yang produktif menulis atau menyusun dan mempunyai karya tulis,  terutama tentang ibadah Ramadhan. Salah satu yang tidak banyak itu adalah Abuya KH Abdurrahman Nawi. Beliau mempunyai dua karya tulis tentang ibadah di bulan Ramadhan, yaitu kitab Mutiara Ramadhan dan Kitab Tujuh Kayfiyah Sembahyang Sunnah.  Dari dua kitab ini, kitab Mutiara Ramadhan merupakan kitab yang cukup populer di kalangan majelis taklim dan pondok pesantren tertentu di Jakarta dan sekitarnya. 

Sebelum mengulas isi kedua kitab tersebut, perlu diperkenalkan terlebih dahulu tentang profil Abuya KH Abdurraman Nawi, ulama yang hanya lulusan majelis taklim, namun kealimannya diakui dan memiliki banyak karya intelektual serta karya sosial, yaitu majelis taklim dan Pondok Pesantren Al-Awwabin. Beliau adalah ulama Betawi kelahiran Tebet, Melayu Besar, Jakarta Selatan yang menurut dua cucunya yang saya wawancarai, yaitu Ustadz Irfan Fahmi dan Ustadz Darul Qutni, lahir pada tahun 1932 M. Abuya KH Abdurrahman Nawi  merupakan putra dari pasangan H Nawi bin Su’id dan ‘Ainin binti Rudin. Beliau diberi nama Abdurrahman. Dengan menyandang nama bapaknya, beliau kemudian dikenal dengan nama Abdurrahman Nawi. 

Hanya Lulusan Majelis Taklim

Abuya KH Abdurrahman Nawi adalah salah seorang  ulama Betawi terkemuka yang menerima pelajaran keislaman dari majelis taklim yang ada di Betawi, bukan dari pondok pesantren atau madrasah. Beliau pernah belajar kepada KH Muhammad Yunus, KH Basri Hamdani, KH M Ramli, dan Habib Abdurrahman Assegaf. Ia juga mengaji kepada KH Muh Zain (Kebon Kelapa, Tebet), KH M Arsyad bin Musthofa (Gang Pedati, Jatinegara), KH Mahmud (Pancoran), KH Musannif (Menteng Atas), KH Ahmad Djunaedi (Pedurenan), KH Abdullah Husein (Kebon Baru, Tebet), KH Abdullah Syafi’i (Matraman), serta Habib Husein Al-Haddad (Kampung Melayu). Agak jauh sedikit, ia mengaji kepada KH Hasbiyallah (Klender), KH Mu’alim (Cipete), KH Khalid (Pulo Gadung), Habib Ali Jamalullail, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Abdullah bin Salim Al-Attas (Kebon Nanas), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad (Kramat Jati), Habib Ali bin Husein Al-Attas (Kemayoran), dan Ustadz Abdullah Arifin (Pekojan).
 
Uniknya, walau Abuya KH Abdurrahman Nawi tidak pernah belajar di sekolah, madrasah, atau pondok pesantren, namun cara belajarnya tidak kalah dengan cara belajar santri di pondok pesantren. Dalam sehari, beliau bisa mengikuti pelajaran di tiga tempat, yang masing-masingnya terdiri atas dua atau tiga mata pelajaran. Sistem belajar yang beliau ikuti biasanya memakai kitab. Seorang guru membaca ‘ibarah dalam kitab dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian menerangkan maksud dari ‘ibarah tersebut dengan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. 

Walau sekadar lulusan majelis taklim, tapi beliau dapat mendirikan pondok pesantren yang merupakan salah satu pondok pesantren terkemuka, khususnya di masyarakat Betawi, yaitu Pondok Pesantren Al-Awwabin yang dulu berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Pesantren itu kini telah dipindahkan dan dikembangkan ke Depok, Jawa Barat. 

Selain itu, beliau juga mengajar di majelis taklim yang dimulainya sejak 1962 M. Majelis taklim ini dibuka di  rumahnya, Jalan Tebet Barat VIII, Jakarta Selatan. Majelis taklim ini diberi nama As-Salafi yang mengajarkan kitab-kitab tertentu sesuai dengan kemampuan dan minat para pesertanya. Untuk kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu, dibacakan kitab Taqrib, Tijan Durar, Nashaihud Diniyah. Sedangkan untuk pemuda dan para ustadz, dibacakan Qawa’idul Lughah, Ibnu ‘Aqil, Fathul Mu’in, Bughyatul Mustarsyidin, Asybah wan Nazhair, dan Qami’ut Thughyan. Peserta majelis taklim beliau datang dari beberapa kampung di Jakarta dan sekitarnya. Banyak murid-murid majelis taklimnya yang kemudian menjadi ulama terkemuka, terutama di Betawi, seperti almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir.

Kitab Mutiara Ramadhan,

Kitab  yang ditulis dalam aksara Arab dan Arab Melayu ini berjumlah 50 halaman, sudah termasuk sampul muka dan sampul belakang, dan dicetak di kertas HVS dengan ukuran tinggi  21 cm dan lebar 14,5 cm. 

Di dalam muqoddimah kitab, Abuya  KH Abdurrahman Nawi menyatakan bahwa risalah yang kecil ini (beliau menyebutnya risalah yang kecil sebagai bentuk ketawadhuan) sebagai persembahan, khususnya kepada Majelis Taklim Pusat Ummatul Islam dan kepada kaum Muslimin pada umumnya dengan harapan bermanfaat di dunia dan di akhirat.

Isi kitab Mutiara Ramadhan membahas tentang hukum puasa (dtulis dengan bahasan yang rinci), kayfiyah atau tata cara shalat Tarawih, doa Tarawih,  kayfiyah atau tata cara mengkhatamkan Al-Qur`an di dalam Tarawih, fadhilah malam Lailatul Qadr, zakat fithrah (dtulis dengan bahasan yang rinci), Idul Fithri dan juga Idul Adha, qashidah (syair) perpisahan bulan Ramadhan, qashidah al-Faridah Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor , qashidah Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, qashidah pamitan bulan Ramadhan, qashidah `al-Ied, dan penutup. 

Di dalam kitab ini, Abuya KH Abdurrahman Nawi membahas tentang puasa Ramadhan dan zakat fithrah dengan rinci. Mengenai zakat fithrah, beliau menjelaskan hal-hal yang memang sering menjadi polemik bukan hanya di kalangan umat yang awam, tetapi juga di kalangan ulama, seperti makanan pokok untuk zakat fithrah. Beliau berpendapat bahwa bahan-bahan makanan yang memadai untuk dijadikan zakat (fithrah), yaitu di antaranya beras, gandum, terigu dan sebagainya yang dapat menguatkan jasmani menurut kebiasaan tempat atau negeri masing-masing. Beliau tidak memberikan pendapat mengenai zakat fithrah berupa uang karena berpegang teguh pada pemahaman bahwa zakat fithrah adalah bahan-bahan makanan yang memadai.

Kitab Tujuh Kayfiyah Sembahyang Sunnah

Kitab yang berjudul Kitab Tujuh Kayfiyah Sembahyang Sunnah  ini ditulis dalam aksara Arab dan Arab Melayu dengan jumlah 46 halaman, sudah termasuk sampul muka, kata pengantar, lampiran, dan sampul belakang. Kitab ini dicetak di kertas HVS dengan ukuran tinggi 21 cm dan lebar 15 cm.

Di dalam kata pengantar kitab, Abuya KH Abdurrahman Nawi menyatakan bahwa referensi untuk menulis kitab ini adalah kitab I`anah Ath-Tholibin, kitab An-Nasha-ih Ad-Diniyyah dan kitab At-Tajul Jami` Lil Ushul. Fi Ahadits Ar-Rosul Saw. serta telah mendapat doa restu dari guru-guru beliau dan ajarannya di dalam tujuh kayfiyah tersebut. 

Kitab ini membahas tentang tata cara (kayfiyah) melakukan tujuh shalat sunnah,yaitu: shalat sunnah Wudlu, shalat sunnah Awabin, shalat sunnah Tarawih, shalat sunnah Witir, shalat sunnah Tahajjud, shalat sunnah Mutlaq dan shalat sunnah Hadiyah.

Terkait dengan shalat sunnah Tarawih, beliau menulisnya dalam satu bab dengan shalat sunnah Witir dengan judul bab Kayfiyah Shalat At-Tarawih dan Witr. Di bab ini, dijelaskan terlebih dahulu tentang lsfadz niat Tarawih, kayfiyah shalat Tarawih tentang perkataan bilal, jawaban jama`ah shalat dan seruannya dari awal dua rakaat pertama sampai ke rakaat ke dua puluh dan penjelasan tentang  doa Tarawih. Kemudian  dibahas tentang sembahyang Witir yang membahas tentang fadhilah  atau keutamaan sembahyang Witir, hukum shalat Witir, jumlah bilangan rakaat Witir, waktunya sembahyang Witir, kaifiyah sembahyang Witir, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam shalat Witir, shalat Witir tiga rakaat, shalat Witir lebih dari satu rakaat, shalat Witir satu rakaat, lafadz niat shalat Witir, seruannya, tasbih dan doa yang dibaca setelah sembahyang Witir, bacaan doa Witir yang singkat, dan bacaan doa Witir yang panjang.
  
Kedua kitab fiqih ibadah ini bercorak madzhab Syafi`i yang berisi kayfiyah atau tata cara sehingga tidak banyak dalil dan referensi dalam bentuk catatan kaki yang dicantumkan untuk mempermudah para pembaca agar langsung tertuju pada bahasannya. Namun, karena didominasi aksara Arab Melayu dn sedikit aksara Arab, pembaca yang tidak biasa membaca aksara Arab Melayu tentu akan kesulitan.  Walau demikian, kedua kitab ini telah menjadi karya yang berharga, bagian dari khazanah keislaman, yang diwariskan oleh beliau kepada umat dan meniadi kebanggaan bagi kaum Betawi.

 

*penulis merupakan Direktur NU Online Jakarta

 

Editor : Junaidi


Editor:

Dari Betawi Terbaru