• logo nu online
Home Warta Nasional Tafsir Jakarta Raya Hadits Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari Literasi
Rabu, 17 Agustus 2022

Jakarta Raya

KH Syukron Ma’mun Beberkan Perjuangan NU saat Makam Rasulullah akan Digusur

KH Syukron Ma’mun Beberkan Perjuangan NU saat Makam Rasulullah akan Digusur
Foto : Farhan Maksudi
Foto : Farhan Maksudi

Jakarta Selatan, NU Online Jakarta

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman KH Syukron Ma’mun membeberkan bahwa cikal bakal lahirnya NU sangat erat kaitannya dengan urusan dan kemaslahatan umat Islam yang ada di Indonesia dan Dunia. 


“Pada tahun 1922 ada isu di tanah suci bahwa kuburan Rasulullah itu mau digusur dan diratakan oleh pemerintahan Ibnu Saud. Adanya isu ini menjadi anggapan dari sebagian mereka bahwa ziarah kubur itu syirik. Dari kejadian ini, KH Hasyim Asyari langsung mendirikan komite hijaz. Dan komite hijaz inilah embrionya organisasi NU,” katanya saat memberikan sambutan pada acara Halal bi Halal dan Silaturahmi Nasional yang diadakan oleh PWNU DKI Jakarta di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa Jakarta Selatan, Selasa (21/6/2022).


KH Syukron menjelaskan dalam komite hijaz itu beranggotakan para kiai sepuh pimpinan pondok pesantren. 


“Para kiai tersebut yang saya ingat itu ada KH Wahab Hasbullah, Syeikh Al-Gonawi guru mesir, lalu Kiai Ilyas dari Pekalongan. Kiai-kiai inilah yang menjadi utusan resmi ke Saudi Arabia untuk bertemu raja Ibnu Saud. Dan syukur alhamdulillah komite ini berhasil, sehingga akhirnya kuburan Rasullulah tidak jadi digusur dan dibongkar,” jelasnya. 


KH Syukron melanjutkan setelah sampai Indonesia komite hijaz ingin membubarkan diri, namun oleh KH Hasyim Asyari dilarang.


“Kiai Hasyim melarang karena orang Indonesia akan mondar-mandir ke Saudi, pasti nanti ajaran wahabi ini akan dikembangkan oleh mereka kepada jamaah haji dan umrah. Untuk menjaga ajaran aqidah aswaja, akhirnya berubah namanya menjadi Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air),” lanjutnya 


KH Syukron meneruskan setelah Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) barulah berubah namanya menjadi Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama).


“Perubahan tersebut terjadi pada tahun 1926 di daerah Bubutan Surabaya Jawa Timur. Cikal bakal lahirnya NU itu sangat beruntut, dan terjadi jauh sebelum disahkannya kemerdekaan negara Indonesia,” terusnya. 


KH Syukron mengatakan setelah resmi menjadi organisasi NU, NU mulai ikut sibuk mengurus kemerdekaan yang diwakili oleh KH Wahid Hasyim dan KH Masykur. 


“Ikutnya NU mengurus negara itu sebagai rasa andil dan kepedulian dalam mengurus dan merumuskan negara Indonesia, dan perilaku tersebut adalah politik, politik sebagai cara mengatur negara Indonesia, dan politik hari ini banyak yang disalahgunakan oleh para pelakunya. Politik itu sesungguhnya mulia dan tak kotor, yang jahat dan tidak bagus itu pelaku politiknya. Oleh karena itu, pilihlah pelaku politik yang Sidiq (dipercaya), Amanah (jujur), Tablig (menyampaikan), dan Fatonah (cerdas),” tutupnya


Kontributor: Farhan Maksudi

Editor: Junaidi


Editor:

Jakarta Raya Terbaru