• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Selasa, 29 November 2022

Nasional

Akademisi Ungkap Penelitian Soal Penyebab Dunia Islam Cenderung Otoriter dan Terbelakang

Akademisi Ungkap Penelitian Soal Penyebab Dunia Islam Cenderung Otoriter dan Terbelakang
Akademisi, Rumadi Ahmad, saat menjadi narasumber dalam Halaqah Fiqih Peradaban ke-3 di Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, Rabu malam. Foto: istimewa.
Akademisi, Rumadi Ahmad, saat menjadi narasumber dalam Halaqah Fiqih Peradaban ke-3 di Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, Rabu malam. Foto: istimewa.

Jakarta Selatan, NU Online Jakarta

 

Akademisi Nahdlatul Ulama (NU) Rumadi Ahmad mengungkap sebuah penelitian soal penyebab dunia Islam cenderung otoriter dan terbelakang. Ia mengatakan, rata-rata negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki keterbelakangan dari berbagai segi, baik intelektual maupun ekonomi. 


“Pertanyaannya begini, kenapa dunia Islam itu rata-rata otoriter secara politik dan miskin? Kalau lihat peta dunia, hampir tidak ada negara Islam yang masuk kategori negara kaya. Ilmu pengetahuan juga tidak berkembang secara pesat seperti ilmu pengetahuan yang berkembang di negara barat,” ungkap Rumadi Ahmad dalam Halaqah Fiqih Peradaban ke-3 di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, pada Rabu (7/9/2022) malam.


Rumadi mengungkapkan bahwa beberapa bulan ini ia tengah serius membaca buku hasil penelitian yang berkaitan tentang perubahan-perubahan dunia Islam. Buku itu berjudul Islam, Authoritarianism and Underdevelopment atau Islam, Otoritarianisme dan Keterbelakangan karya Ahmet T Kuru, seorang akademisi dari Turkiye.


Ahmet, di dalam bukunya dengan keras menolak jawaban-jawaban masyarakat yang sering muncul ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan mengenai alasan dunia Islam menjadi terbelakang dan otoriter. Sebagian besar masyarakat dunia menyebutkan, alasan negara Islam cenderung otoriter dan terbelakang itu karena dua faktor. 


Pertama, karena alasan esensialis yakni kekerasan, keterbelakangan, dan otoritarinisme merupakan bagian yang melekat pada Islam itu sendiri.


“Jawaban pertama, itu yang dia sebut dengan Esensialis. Negara-negara muslim itu terbelakang dan miskin itu karena di dalam Islam itu sendiri memang mendukung kemiskinan dan mendukung otoritarianisme,” ungkap Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.


Namun kata Rumadi, Ahmet Kuru tidak setuju dengan jawaban itu. Karena melihat fakta bahwa Islam pada abad ke-8 sampai abad ke-12 itu menjadi kiblat ilmu pengetahuan. Selain itu, ekonomi Islam juga berkembang sangat baik pada masa-masa itu. 


“Jadi, kalau dikatakan islam itu mendukung kemiskinan dan keterbelakangan itu tidaklah benar,” kata Rumadi.


Kedua, Rumadi mengungkapkan bahwa alasan yang ditolak Ahmet yakni karena adanya kolonialisme Barat. Dengan kata lain, Islam mengalami kemunduran dan kemiskinan karena dijajah oleh Kolonialisme Barat. 


Alasan Ahmet menolak jawaban itu karena apabila disorot dari kacamata sejarah, kolonialisme memasuki dunia Islam ketika kaum Muslim sudah menderita krisis politik dan sosio-ekonomi.


“Jawaban itu menurut dia keliru. Kenapa? Karena ketika kolonialisme abad ke-18 atau 19 masuk ke dunia Islam itu dunia Islam sudah mengalami kemunduran. Jadi kalau dikatakan kolonialisme yang menyebabkan kemunduran itu keliru,” papar Dosen kelahiran Jepara itu.


Rumadi menyebutkan bahwa alasan negara-negara Islam terbentuk menjadi negara yang otoriter dan terbelakang yang paling konkret dan masuk akal menurut Ahmet T Kuru yakni karena adanya persekutuan ulama, politik, intelektual, dan ekonomi. Hal ini membuat maju-mundurnya dunia Islam ditentukan oleh model aliansi kelompok tersebut.


“Penyebab kemuduran dunia Islam itu bukan karena ajaran Islam itu sendiri, bukan juga karena kolonialisme. Tetapi karena persoalaan-persoalan persekutuan ulama, politik, intelektual dan ekonomi yang menyatu membuat aliansi yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Itulah sebabnya kenapa dunia Islam itu mundur,” tuturnya.


Namun, Rumadi menggarisbawahi bahwa Ahmet Kuru tidak mengkaji Indonesia sebagai bahan penelitiannya. Karena menurut Ahmet, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas Islam yang dikecualikan dari pendapatnya itu. 


“Karena faktanya, Indonesia merupakan negara yang mengadopsi demokrasi sebagai bagian dari tata kelola pemerintahannya dan secara pendapatan perkapita Indonesia juga cukup baik,” pungkas Rumadi.


Sebagai Informasi, Halaqah Fiqih Peradaban ke-3 yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta ini merupakan agenda PBNU dalam menyongsong usia satu abad NU dan menjadi salah satu rangkaian acara dari Hari Lahir ke-37 Pesantren Asshiddiqiyah.


Pewarta: Winda Khoirunnisa
Editor: Aru Elgete
 


Editor:

Nasional Terbaru