• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Rabu, 28 September 2022

Akhlak Tasawuf

Cium Tangan

Cium Tangan
Yang mutakhir adalah KH Maimun Zubair mencium tangan putra gurunya Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi al-Maliki.
Yang mutakhir adalah KH Maimun Zubair mencium tangan putra gurunya Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi al-Maliki.

Yang tua mencium tangan yang muda.


Habib mencium tangan kiai atau gus 


Ulama mencium tangan awam.

***


Peristiwa semacam ini kadang terjadi. Sejarah banyak mencatatnya, di antaranya kisah masyhur antara sahabat senior Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu, sang penulis wahyu, dan sepupu muda Rasulullah, Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma. Yang muda membantu senionya menaiki kendaraannya, lalu sang senior mencium tangan sepupu Rasulullah tersebut.


Kisah Rasulullah saw mencium tangan seorang tukang batu juga tercatat dalam kitab hadits. Yang mutakhir adalah KH Maimun Zubair mencium tangan putra gurunya Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi al-Maliki. Habib Umar bin Hafidz biasa mencium tangan semua jamaah yang hadir di masjid.


Seorang ulama muda kontemporer yang saya saksikan sendiri sangat fenomenal adalah (alm) Habib Mundzir Al-Musawa, murid Habib Umar, yang mencium tangan seluruh yang hadir di depan majelis saat dulu hadir di masjid kami.


Dalam peristiwa ini kita belajar banyak hal. Pertama, sosok yang lebih utama dari segi usia dan ilmu ingin menunjukkan keutamaan sosok yang lebih muda. Ini terjadi pada sahabat Abdullah bin Abbas ra ketika diistimewakan oleh Khalifah Sayyiduna Umar bin Khattab ra untuk menunjukkan kehebatannya dalam menafsirkan Al-Qur'an.


Kedua, hal semacam itu menunjukkan tingkat ketawadhuan seorang alim kepada siapapun. Jangankan kepada yang lebih muda, bahkan kepada hewan dan makhluk Allah lainnya. Semakin tawadhu semakin tinggi derajatnya di sisi Allah. Istilah iklan rokok dulu, "How low can you go?"


Ketiga, sang alim sedang mentarbiyah dirinya untuk selalu tawadhu kepada semua orang. Ini salah satu jalan mengikis ego dan kesombongan diri. Sulit memang, tapi demikian cara beliau mengikis kesombongan.


Syekh Mutawalli Sya'rawi konon di jalan pulang menyempatkan diri mampir di masjid untuk membersihkan kamar mandi karena tadi di majelis ia mendapatkan sanjungan dan pujian yang tinggi. Ia mengikis kesombongan itu dengan membersihkan masjid.


Ini sekadar komentar atas peristiwa sang Gus dan Sang Habib. Tidak perlu menyebut merk.


KH Jamaluddin F Hasyim, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta.


Akhlak Tasawuf Terbaru