• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Jumat, 19 April 2024

Fiqih

Putusan LBM NU DKI Hukum Perempuan Jadi Imam Shalat Bagi Makmum Laki-Laki

Putusan LBM NU DKI Hukum Perempuan Jadi Imam Shalat Bagi Makmum Laki-Laki
Ilustrasi shalat berjamaah makmum. (Foto: NU Online).
Ilustrasi shalat berjamaah makmum. (Foto: NU Online).

Mayoritas ulama sepakat bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam bagi makmum laki-laki. Namun menurut pendapat Abu Tsaur, Imam Thabari, dan Imam Ahmad bin Hanbal serta sebagian ulama mazhab Hanabilah, perempuan boleh dan sah menjadi imam bagi makmum laki-laki. Karena persoalan ini domain fikih dan hukumnya khilâfîyyah, maka tidak boleh menganggap orang yang mengikuti pendapat yang membolehkan perempuan menjadi imam bagi makmum laki-laki dianggap sebagai penistaan agama.


Penjelasan Para Ulama


الإنصاف للمرداوي ج: 2 ص: 263-264  
قال في الفروع: واختار الأكثر صحة إمامتها في الجملة ; لخبر أم ورقة العام والخاص، والجواب عن الخاص: رواه المروذي بإسناد يمنع الصحة، وإن صح: فيتوجه حمله على النفل، جمعا بينه وبين النهي، ويتوجه احتمال في الفرض والنهي: تصح مع الكراهة. انتهى 


“Ia berkata di dalam kitab al-Furu': 'Kebanyakan ulama memilih membenarkannya (sah) keimaman perempuan dalam kalimat tersebut berdasarkan hadits Ummu Waraqah yang bersifat umum dan khusus. Dan jawaban mengenai yang bersifat khusus diriwayatkan oleh al-Marwadzi dengan sanad yang tidak membenarkannya. Jika dibenarkan (sah), maka kemungkinannya mengarah pada shalat nafilah (sunnah), karena dikompromikan antara yang menyatakan sah dan yang melarang (tidak sah). Kemungkinan [lain] mengarah pada shalat fardhu, sehingga larangan itu artinya tetap sah shalat fadhu tetapi makruh’.”


اختلفوا في إمامة المرأة، فالجمهور على أنه لايجوز أن تؤم الرجال، واختلفوا في إمامتها النساء فأجاز ذلك الشافعي، ومنع ذلك مالك، وشذ أبو ثور والطبري فأجاز إمامتها على الإطلاق


“Para ulama berbeda pendapat tentang imam perempuan. Mayoritas ulama berpendapat tidak diperbolehkan perempuan mengimami makmum laki-laki. Para ulama berbeda pendapat tentang imam perempuan bagi kalangan perempuan sendiri, hal ini diperbolehkan oleh Imam as-Syafii, dan dilarang oleh Imam Malik. Abu Tsur dan al-Thabari berpendapat di luar mainstream (syadz) bahwa perempuan boleh mengimami secara mutlak baik makmum perempuan maupun laki-laki” (Ibnu Rusydi, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Dar al-Fikr: Beirut, jilid. I, hal. 105) 


القواعد النورانية، ج ١ / ص ۷٨
و لهذا جوز أحمد في المشهور عنه أن المرأة تؤم الرجل لحاجة مثل أن تكون قارئة وهم غير قارئين فتصلي بهم التراويح كما أذن النبي صلى الله عليه وسلم لأم ورقة أن تؤم أهل دارها و جعل لها مؤذنا و تتأخر خلفهم و إن كانوا مأمومين بها للحاجة وهو حجة لمن يجوز تقدم المأموم لحاجة هذا مع ما روى عنه صلى الله عليه وسلم من قوله لا تؤمن امرأة رجلا و أن المنع من إمامة المرأة بالرجال قول عامة العلماء.


Oleh karena itu, Ahmad, sebagaimana masyhur diketahui, membolehkan seorang perempuan menjadi imam shalat bagi laki-laki karena suatu keperluan, misalnya ia adalah seorang qari`ah (fasih membaca al-Qur`an) sedangkan mereka (laki-laki) bukan qari`, maka ia hendaknya menunaikan shalat Tarawih bersama mereka, sebagaimana Nabi Muhammad Saw. memberikan izin kepada Ummu Waraqah untuk mengimami orang-orang di rumahnya dan menunjuk seorang muazin untuknya, serta tetap berada di belakang mereka, meskipun mereka dimimami olehnya untuk shalat karena suatu keperluan. Ini merupakan dalil bagi orang yang membolehkan makmum berada di depan imam karena suatu keperluan. Dan ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw., beliau bersabda: (Seorang perempuan tidak mengimami laki-laki) dan bahwa larangan perempuan mengimami laki-laki adalah pendapat sebagian besar ulama.”


 فتح الباري ـ لابن رجب، ج ٤ / ص ١٧۲
من أصحابنا من أجاز إمامته فِي قيام رمضان، إذا لَمْ يوجد قارىء غيره؛ فإن أحمد أجاز إمامة المرأة فِي ذَلِكَ، والغلام أولى، وفيه نظر - أَيْضاً -؛ فإن المرأة من أهل التكليف ووجوب الصلاة، بخلاف الصبي .


Di antara para sahabat kami ada yang membolehkan keimamannya dalam shalat qiyam Ramadhan (Tarawih), jika tidak ada qari` selain dia. Ahmad membolehkan perempuan mengimami shalat dalam hal ini (Tarawih), dan pemuda lebih utama. Hal ini juga harus dipertimbangkan, karena perempuan termasuk mukallaf dan wajib shalat, yang berbeda dengan anak kecil laki-laki.


بدر التمام في احكام المأموم والإمام، ص، ٢٨ -٢٩
فأما الحنفية فقد ذكر السرخسي في المبسوط أن مذهبهم في هذه المسألة هو أن المرأة لا تصلح لإمامة الرجال، وذكر في فقه العبادات أن الذكورة المحققة شرط من شروط صحة صلاة الجماعة، ثم قال: فخرج بذلك الخنثى -لأن ذكورتها غير محققة- والمرأة فلا تصح إمامة النساء للرجال مطلقا لا في فرض ولا في نفل
وأما المالكية فقد ذكر ابن رشد في بداية المجتهد أن مذهبهم كمذهب الشافعية والحنابلة والحنفية والمالكية وهو أنه لايجوز أن تؤم المرأة الرجال ونص في الفواكه الدواني على بطلان الرجل خلفها
وأما الشافعية فقال القفال الشاشي: ولا تصح إمامة المرأة للرجال ونقل النووي اتفاق الشافعية على ذلك وسواء في المنع عندهم إمامة المرأة للرجال في صلاة الفرض أو التراويح أو سائر النوافل، قالوا: فإن صلى خلفها ولم يعلم ثم علم لزمه الإعادة -بلا خلاف- لأن عليها أمارة تدل على أنها امرأة، فلم يعذر في صلاته خلفها
وأما الحنابلة فقد قال ابن مفلح لا يصح أن يأتم رجل بإمرأة في الصحيح من المذهب وهو قول عامتهم قال البيهقي وعليه الفقهاء السبعة والتابعون ونص المرداوي على عدم جواز امامتها فقال ولا تصح إمامة المرأة للرجل هذا هو المذهب مطلقا وعلى هذا يجب على من صلى خلفها من الرجال إعادة وعن أحمد رواية أخرى وهي صحة إمامتها في النفل وعنه أيضا تصح في التراويح نص عليه وهو الأشهر عند المتقدمين من أصحابه وخص بعض الحنابلة الجواز بذي الرحم وخصه بعضهم بكونها عجوزا وخصه أخرون بأن تكون أقرأ من الرجال ومن قال بالصحة منهم قال تقف خلفهم ويقتدون بها في جميع أفعال الصلاة لانه استر لها ويقتدون بها
القائلين بالجواز.حكي عن أبي ثور وابن جرير الطبري أنهما يحيزان إمامة المرأة بالرجال في صلاة التراويح إذا لم يكن هناك قريء غيرها وتقف خلف الرجال ونقل ابن رشد والنووي عنهما -ابي ثور والطبري- جواز إمامتها على الإطلاق
حديث أم ورقة الأنصارية رضي الله عنها: (عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ نَوْفَلٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا غَزَا بَدْرًا قَالَتْ: قُلْتُ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِى فِى الْغَزْوِ مَعَكَ أُمَرِّضُ مَرْضَاكُمْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِى شَهَادَةً. قَالَ: "قِرِّى فِى بَيْتِكِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْزُقُكِ الشَّهَادَةَ". قَالَ: فَكَانَتْ تُسَمَّى الشَّهِيدَةَ. قَالَ: وَكَانَتْ قَدْ قَرَأَتِ الْقُرْآنَ فَاسْتَأْذَنَتِ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم أَنْ تَتَّخِذَ فِى دَارِهَا مُؤَذِّنًا فَأَذِنَ لَهَا قَالَ وَكَانَتْ دَبَّرَتْ غُلاَمًا لَهَا وَجَارِيَةً فَقَامَا إِلَيْهَا بِاللَّيْلِ فَغَمَّاهَا بِقَطِيفَةٍ لَهَا حَتَّى مَاتَتْ وَذَهَبَا، فَأَصْبَحَ عُمَرُ فَقَامَ فِى النَّاسِ فَقَالَ: مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْ هَذَيْنِ عِلْمٌ أَوْ مَنْ رَآهُمَا فَلْيَجِئْ بِهِمَا؟ فَأَمَرَ بِهِمَا فَصُلِبَا فَكَانَا أَوَّلَ مَصْلُوبٍ بِالْمَدِينَةِ)
وفي سنن الدراقطني: (حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جُمَيْعٍ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَذِنَ لَهَا أَنْ يُؤَذَّنَ لَهَا وَيُقَامَ وَتَؤُمَّ نِسَاءَهَا
أما من فسر حديث أم ورقة بجواز إمامتها للرجل في النفل والتراويح دون الفرائض فلا وجه لتخصيصه لما ورد في رواية أخرى (تؤمهم في الفريضة)، كما في سنن البيهقي: (وَأَمَرَ أَنْ يُؤَذَّنَ لَهَا وَيُقَامَ وَتَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا فِى الْفَرَائِضِ)


“Para ulama Hanafi, al-Sarkhasi menyebutkan di dalam kitab al-Mabsûth bahwa mazhab mereka tentang masalah ini adalah bahwa perempuan tidak layak mengimami laki-laki. Ia menyebutkan di dalam fikih ibadah bahwa al-dzukûrah (kelelakian) yang terverifikasi adalah salah satu syarat keabsahan shalat berjamaah. Ia berkata: maka banci tidak masuk dalam hal ini, karena kelelakiannya tidak terverifikasi. Dan mengenai perempuan, tidak sah perempuan mengimami laki-laki secara mutlak, baik dalam shalat wajib maupun sunnah.


Para ulama Maliki, Ibnu Rusyd menyebutkan di dalam kitab Bidayah al-Mujtahid bahwa mazhab mereka mereka sama dengan doktrin Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi. Menurut mazhab Maliki, perempuan tidak boleh mengimami laki-laki dalam shalat. Disebutkan di dalam kitab al-Fawâkih al-Dawânîy mengenai tidak sahnya seorang laki-laki menjadi makmum di belakang perempuan.


Para ulama Syafi’i, al-Qaffal al-Syasyi berkata: ‘Tidak boleh seorang perempuan mengimami laki-laki.’ Al-Nawawi menyampaikan kesepakatan ulama mazhab Syafi’i mengenai hal itu, bahwa perempuan tidak boleh mengimami laki-laki dalam shalat wajib, shalat tarawih, atau shalat-shalat sunnah lainnya. Mereka berkata: ‘Jika laki-laki shalat di belakang perempuan namun ia tidak mengetahuinya, lalu mengetahui, maka ia wajib mengulangi shalatnya tanpa perselisihan, sebab ia wajib melaksanakannya. Jadi, jika terdapat suatu tanda yang menunjukkan bahwa imamnya adalah seorang perempuan, maka laki-laki tidak dimaafkan untuk shalat di belakangnya.


Para ulama Hanbali, Ibnu Muflih berkata: ‘Tidak boleh seorang laki-laki menjadi makmum bagi seorang perempuan menurut pendapat yang benar, dan ini pendapat sebagian besar dari mereka.’ Al-Baihaqi berkata, yang didukung oleh ketujuh ahli fikih serta para tabi’in dan pendapat al-Mardawi, bahwa tidak boleh seorang perempuan mengimami laki-laki. Ini adalah pendapat yang mutlak, dan berdasarkan hal tersebut maka wajib bagi laki-laki yang shalat di belakang perempuan untuk mengulangi shalatnya. Dan dari Ahmad, ada riwayat lain, mengenai sahnya perempuan mengimami shalat sunnah, dan dari Ahmad juga mengenai sahnya perempuan mengimami shalat Tarawih. Ia mengatakan ini, dan ini sangat terkenal di kalangan sahabat-sahabatnya yang awal. Sebagian ulama Hanbali memilih membolehkan perempuan menjadi imam bagi kerabatnya, sebagian membolehkan bagi orang tua renta, dan sebagian lainnya membolehkannya jika ia lebih pandai membaca al-Qur`an daripada laki-laki. Dan di antara mereka yang mengatakan sahnya perempuan menjadi imam shalat bagi laki-laki berpendapat bahwa perempuan itu hendaknya berdiri di belakang kaum laki-laki dan mereka harus mengikutinya dalam segala gerekan shalat, karena itu dalam menutup auratnya tetapi mereka tetap bisa mengikutinya.


Mereka yang mengatakan boleh, diriwayatkan dari Abu Tsaur dan Ibnu Jarir al-Thabari, bahwa keduanya membolehkan perempuan mengimami laki-laki dalam shalat Tarawih jika tidak ada yang lebih baik darinya dalam membaca al-Qur`an. Ibnu Rusyd dan al-Nawawi meriwayatkan dari keduanya—Abu Tsaur dan al-Thabari—bahwa keduanya membolehkan perempuan menjadi imam shalat secara mutlak.


Hadits Ummu Waraqah al-Ansariyyah ra.: (Dari Ummu Waraqah binti Naufal ra., bahwa ketika Nabi Saw. pergi ke perang Badar ia berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku pergi ke medan perang bersamamu, aku akan mengurus orang-orang yang sakit di antara kalian, mudah-mudahan Allah memberi rizki kepada saya dengan mati Syahid.’ Nabi Saw. bersabda: ‘Tinggallah kamu di rumahmu, sesungguhnya Allah akan memberimu rizki dengan syahid.’  Ia berkata: ‘Ia diberi gelar syahidah.’  Ia berkata:  ‘Ummu Waraqah telah membaca al-Qur`an dan meminta izin kepada Nabi Saw. untuk mengangkat muadzin di rumahnya, dan Nabi Saw. mengizinkannya.’ Ia berkata: ‘Ummu Waraqah menangguhkan (kemerdekaan) seorang hamba sahaya laki-laki dan seorang hamba perempuan (sampai ia mati). Kedua hamba sahaya itu pada suatu malam bangun dan mendatangi Ummu Waraqah dan membekapnya dengan alketipnya hingga mati, kemudian keduanya pergi. Pagi-pagi Umar ra. berdiri di depan orang-orang dan berkata: ‘Siapa diantara kalian yang mengetahui tentang dua orang ini, bawa kemari.’ Lalu Umar menyuruh keduanya disalib, dan kedua orang itu yang pertama kali disalib di Madinah.’ 


Di dalam Sunan al-Dâraqutnîy: (Al-Walid bin Jumai’ memberi tahu kami dari ibunya, dari Ummu Waraqah, bahwa Rasulullah Saw. memberinya izin untuk menunjuk seseorang mengumandangkan adzan dan iqamah, dan memberinya izin untuk menjadi imam bagi para perempuan). Adapun orang-orang yang menafsirkan hadits Ummu Waraqah dengan bolehnya perempuan menjadi imam bagi laki-laki shalat sunnah dan shalat Tarawih tanpa shalat wajib, maka tidak ada dasar untuk menyebutkannya, karena ada penegasan dalam riwayat lain (bahwa perempuan boleh menjadi imam bagi laki-laki dalam shalat fardhu), sebagaimana di dalam Sunan al-Bayhaqîy: (Dan Nabi Saw. memerintahkan agar adzan dan iqamah dikumandangkan untuknya, dan ia menjadi imam bagi seisi rumahnya dalam shalat fardhu).”


Artikel diatas telah disahkan oleh Ketua LBM PWNU DKI Jakarta KH Mukti Ali Qusyairi dan Tim Perumus KH Asnawi Ridwan, KH Taufik Damas, KH Mulawarman Hannase, dan KH Ahmad Mahrus Iskandar, pada 17 September 2023.


Fiqih Terbaru