• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Rabu, 28 September 2022

Nasional

Ning Balqis Iskandar Hapus Perspektif Pemimpin Hanya dari Kaum Lelaki 

Ning Balqis Iskandar Hapus Perspektif Pemimpin Hanya dari Kaum Lelaki 
Ning Balqis Iskandar saat menyampaikan materi dalam Seminar Keputrian di Perpustakaan Ma'had Aly Jakarta. Foto: Mahasantri Sa'idusshiddiqiyyah
Ning Balqis Iskandar saat menyampaikan materi dalam Seminar Keputrian di Perpustakaan Ma'had Aly Jakarta. Foto: Mahasantri Sa'idusshiddiqiyyah

Jakarta Barat, NU Online Jakarta

 

Penulis buku Menjadi Kekasih Al-Qur’an Nyai Hj Atina Balqis Izza Iskandar mencoba menghapus perpektif atau sudut pandang yang menyatakan bahwa pemimpin hanya boleh dari kaum laki-laki. Menurutnya, seorang perempuan juga berhak memimpin sebagaimana kaum laki-laki pada umumnya. 


Dalam kepemimpinan, dibutuhkan perempuan yang cerdas yang tujuannya bukan untuk menyamai laki-laki. Sebab pada kenyataannya, Allah menciptakan manusia dengan setara, baik laki-laki maupun perempuan. 


“Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan kalian baik laki-laki maupun perempuan,” jelas Ning Balqis, demikian sapaan akrabnya, dalam Seminar Keputrian di Perpustakaan Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyyah Jakarta, pada Jumat (9/9/2022). 


“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas hal yang dia pimpin. Begitu juga dengan perempuan, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya dan keluarganya ketika dia sudah menikah,” imbuhnya. 


Dalam materinya, Ning Balqis menyampaikan ada tiga ruang lingkup kepemimpinan bagi perempuan yaitu diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas. Pada poin pertama, perempuan harus bisa memimpin dirinya dalam mengendalikan hawa nafsu.


Poin kedua bagi keluarga yaitu seorang perempuan harus mampu memimpin dalam keluarganya, khususnya anak-anak, sehingga mampu mencetak generasi-generasi yang gemilang  di masa mendatang. 


Poin ketiga adalah masyarakat luas. Sebelum masuk ke masyarakat luas, perempuan harus menyelesaikan kepemimpinannya dalam keluarga dengan baik. Jika seorang perempuan mempunyai potensi untuk berkiprah di masyarakat luas maka ada dua hal yang harus dilakukan.


“Yaitu mencari suami yang bisa mengizinkan untuk berkiprah di masyarakat luas dan tentu saja tidak melupakan kepemimpinannya dalam keluarga,” papar putra keempat KH Noer Muhammad Iskandar lulusan Universitas Al-ahgaf, Yaman itu. 


Selanjutnya, Ning Balqis menjelaskan tentang cara menjadi pemimpin yang shaleh dan taat. Pertama dimulai dengan ilmu, meluruskan niat, menjadikan syariat sebagai standar dalam bertindak, dan menjaga nilai adab Islam. 


Terdapat empat ilmu yang wajib dipelajari dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim karangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yaitu ilmu tauhid, fiqih, tasawuf, dan Al-Qur’an. Ning Balqis menegaskan, perempuan harus berilmu dan berwawasan luas karena akan terlihat berbeda antara sesuatu yang dilakukan dengan ilmu dengan tidak dengan ilmu. 


Seorang pemimpin yang taat juga harus bijak dalam memaknai kebebasan. Menurut Ning Balqis, tidak ada kebebasan secara mutlak karena ada aturan dan aturan syariat bukan berdasarkan gender,melainkan syariat sebagai hamba Allah. 


“Saat kalian keluar dari pesantren kalian akan menjadi rujukan orang banyak, yang ditunggu manfaatnya, dicari ilmunya maka jangan sampai mengecewakan,” pungkas Ning Balqis memberikan motivasi kepada santri. 


Kontributor: Robiah Lubis
Editor: Aru Elgete
 


Editor:

Nasional Terbaru