• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Selasa, 31 Januari 2023

Jakarta Raya

PWNU DKI: Negara Harus Hadir atas Tenggelamnya Tanah Jakarta karena Eksploitasi Air

PWNU DKI: Negara Harus Hadir atas Tenggelamnya Tanah Jakarta karena Eksploitasi Air
Kiai Samsul menyampaikan sambutan pada acara sosialisasi tentang ketahanan air di DKI Jakarta di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2022).
Kiai Samsul menyampaikan sambutan pada acara sosialisasi tentang ketahanan air di DKI Jakarta di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2022).

Jakarta Pusat, NU Online Jakarta

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif menyoroti kasus penurunan tanah yang terjadi di kota besar yang disebabkan pengambilan air secara berlebihan.


“Dulu kita tidak mengerti, di pesantren sering dibahas tentang air. Setelah di Jakarta kita baru mengerti bahwa permasalahan tentang air begitu berefek,” kata Kiai Samsul pada acara sosialisasi tentang ketahanan air di DKI Jakarta yang diselenggarakan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dan Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2022).


Kiai Samsul mengingatkan bahwa air termasuk masalah yang sangat fundamental untuk hajat hidup masyarakat luas. “Ternyata dalam kehidupan kita air sangat fundamental, apalagi di kota Jakarta. Maka semua kota besar paling utama adalah air, udara, energi dan pangan,” kata Kiai Samsul.


Ia mengutip hadits yang menyebutkan air, api, dan rumput sebagai hajat hidup orang banyak. “Terdapat hadits yang berbunyi ‘Kaum Muslim itu berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.' Padang rumput bisa kita maknai pangan dan api bisa kita maknai sebagai energi sesuai dengan konteks kekinian itu berserikat yang dimaknai untuk kepemilikan bersama,” kata Kiai Samsul.


Menurutnya, unsur-unsur energi terutama mengenai air harus dikuasai oleh negara. Kepemilikan bersama harus dikuasai oleh pemerintah, tidak boleh diserahkan kepada pribadi-pribadi.


“Negara harus hadir untuk mengurus air. Negara tidak boleh membiarkan rakyatkanya kesulitan. Jika negara tidak menguasai, akan terjadi pangan monopoli, penimbunan dan kejahatan-kejahatan lainnya. Jadi urusan air, energi, pangan harus dikuasai oleh negara,” terangnya.


Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta H Endin AJ Sofihara menambahkan, air adalah unsur pokok dalam kehidupan. Makhluk hidup mungkin bisa terbebas dari persoalan sandang, pangan, dan papan yang mewah tapi tidak dengan air. Maka dari itu, air harus dikuasai oleh negara.


“Air adalah pesan konstitusi bumi. Air dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara dan diperuntukkan bagi kemashalahatan bersama,” kata H Endin.


Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas Lc menyerukan agar pemerintah harus melindungi air untuk kepentingan rakyat. Menurutnya, air tidak boleh diswastanisasi. “Air adalah hak rakyat,” tegasnya.


Ketua LBM PWNU DKI Jakarta KH Mukti Ali Qusyairi menambahkan bahwa air dalam fiqih tata kota adalah sebuah kedaulatan. Pengelolaan air oleh pemerintah adalah teks yang sudah diafirmasi oleh semua pihak. Artinya, dalam konteks sekarang pemegang kendalinya adalah pemerintah.


Menurutnya, penataan kota harus diutamakan dan harus berpijak pada kemaslahatan seluruh lapisan masyarakat. “Seperti air supaya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang dekat (PAM Jaya) milik pemerintah dan masyarakat umum. Jangan sampai eksploitasi air tanah pada gilirannya mengorbankan masyarakat banyak,” ujarnya.


Tampak hadir sebagai narasumber sosialisasi H Endin AJ Sofihara, KH Taufik Damas Lc, KH Mukti Ali Qusyairi, dan Direktur Utama PAM Jaya Arif Nasrudin.


Kontributor: Haekal Attar

Editor: Alhafiz Kurniawan


Jakarta Raya Terbaru