• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Selasa, 31 Januari 2023

Akhlak Tasawuf

Mengenal Hubungan Islam dan Seni

Mengenal Hubungan Islam dan Seni
Ilustrasi seni dan Islam. Foto: NU Online
Ilustrasi seni dan Islam. Foto: NU Online

Islam dan seni seringkali dipahami sebagai sesuatu yang berseberangan atau dengan kata lain tidak memiliki keterhubungan di antara keduanya. Penyebab ketidakterhubungan antara Islam dan seni adalah soal pemaknaan tentang Islam dan seni.


Sebagaimana diketahui, Islam adalah agama yang mengajarkan untuk mencintai keindahan, bahkan Allah menyebut dirinya sebagai Dzat Yang Mahaindah. Hal ini dikutip dari HR Muslim dalam Kitab Al-Iman karya Ibnu Taimiyah:


إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ


Artinya: “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan.”


Dari konteks ini, Allah mensifati dirinya sebagai dzat yang Mahaindah dan tentunya Allah menyukai segala bentuk dari keindahan-keindahan. Dari Islam yang mengajarkan tentang keindahan, apakah seni merupakan sebuah bentuk dari keindahan?


Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Prof Mahmoed Hamdi Zaqzouq menerangkan bahwa secara hakikat seni memiliki arti soal kreasi-kreasi keindahan yang tak pernah ditentang oleh Islam. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Islam sejatinya lebih memprioritaskan tentang prinsip moralitas daripada hanya keindahan belaka. (lihat Prof Zaqzouq dalam Islam Dihujat Islam Menjawab: Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman, terjemahan M Quraish Shihab, 2010).


Menurut Prof Zaqzouq, kreasi-kreasi artistik dan estetik harus dikaitkan dan terkendali dengan etika dan moral. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa sikap itulah yang menjadi dasar Islam terhadap berbagai macam bentuk kesenian, sehingga dapat diformulasikan dalam kaidah ‘seni yang baik adalah baik dan seni yang buruk adalah buruk’.


Sebenarnya, seni adalah salah satu bagian terdekat dalam kehidupan manusia. Kehadiran seni secara sederhana sebagai curahan hati menjadi satu di dalam wadah untuk mengembangkan suatu bakat yang ada pada manusia, sehingga seni menjadi sebuah identitas suatu golongan masyarakat atau daerah tertentu. Misalnya daerah Ponorogo, Jawa Timur, yang terkenal dengan Reog Ponorogo.


Hal tersebut terjadi karena kehadiran dan tujuan seni sebagai bentuk penciptaan karya (creative process) menjadi tumpuan utama yang memberikan arah ke mana sebuah karya seni akan dibawa.


Seni nerupakan bagian terdekat dari kehidupan manusia. Lahirnya kebudayaan di tengah-tengah masyarakat merupakan hasil budidaya manusia dengan segala keindahan dan kebebasan berekspresi dari manusia itu sendiri. Karenanya, seiring perkembangan zaman dengan kebudayaannya, kesenian yang merupakan produk dari kebudayaan ikut berkembang sesuai dengan keadaan masanya.


Kaitan antara seni dan budaya bukan tanpa alasan. Kata budaya diambil dari bahasa Sansekerta yaitu buddayah. Jika dipisahkan, akan menjadi penggalan kata budi dan daya. Budi artinya akal, pikiran, nalar, sedangkan daya berarti usaha, upaya, dan ikhtiar. Jadi kebudayaan adalah segala akal pikiran, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Seni yang dilahirkan oleh budaya merupakan bagian terdekat dari manusia dan Islam adalah agama yang mengatur jalan hidup manusia dengan memandang segala sesuatunya harus bersandar pada sebuah kebaikan, moralitas, dan kepatutan agar susuai dengan napas Islam yang rahmatan lil alamin.


Sepatutnya, Islam tidak pernah melarang dan menolak segala bentuk karya seni yang darinya lahir kedamaian pikiran, melatih sensitivitas perasaan, dan mengasah kelembutan. Sebab Allah menciptakan seluruh alam raya ini berdasarkan keindahan dengan segala bentuk keserasian dan keteraturannya, seperti yang terungkap dalam Surat Al-Hijr ayat 16: 


 وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ


Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya.”


Kemudian ditunjukkan lagi dalam Surat As-Saffat ayat 6: 


إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ


Artinya: “Sesungguhnya, Kami telah menghiasi langit dunia dengan hiasan berupa bintang-bintang.”


Dengan demikian, karya seni yang tidak boleh merupakan karya yang sengaja dibuat untuk membangkitkan selera rendah dari birahi manusia atau karya-karya tersebut tidak layak disebut dengan seni, tetapi lebih tepat disebut sebagai kejahilan hedonistik yang harus ditolak. Wallahua’lam


Haekal Attar, Jurnalis NU Online Jakarta
 


Editor:

Akhlak Tasawuf Terbaru