• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Selasa, 31 Januari 2023

Nasional

Gus Yahya Minta LD PBNU Perluas Jangkauan Khidmah

Gus Yahya Minta LD PBNU Perluas Jangkauan Khidmah
Gus Yahya berpose bersama jajaran Pengurus LD PBNU dan Syekh Musthafa Zahran dari Mesir usai pembukaan Rakernas IX LD PBNU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Selasa (25/10/2022). Foto: NU Online Jakarta/Wiwit
Gus Yahya berpose bersama jajaran Pengurus LD PBNU dan Syekh Musthafa Zahran dari Mesir usai pembukaan Rakernas IX LD PBNU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Selasa (25/10/2022). Foto: NU Online Jakarta/Wiwit

Jakarta Timur, NU Online Jakarta

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf secara resmi membuka rangkaian agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IX Lembaga Dakwah (LD) PBNU, di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, pada Selasa (25/10/2022). 


Gus Yahya menyampaikan bahwa PBNU sekarang harus bekerja seperti pemerintahan, sehingga semua lembaga di bawahnya wajib merancang strategi untuk menciptakan kebijakan. Dengan bekerja layaknya konsep pemerintahan, LD PBNU tidak perlu lagi membuat program kegiatan pengajian di kantor PBNU tetapi perlu memperluas jangkauan khidmah atau layanan kepada warga NU.


“LDNU bisa lebih ditekankan lagi dalam  satu strategi kebijakan untuk melakukan perkhidmatan yang lebih luas ke seluruh masyarakat warga NU,” ucap Gus Yahya. 


Gus Yahya kemudian menjelaskan tentang makna dakwah yakni sebuah upaya untuk mengajak target ke dalam suatu lingkungan konsituensi yang nantinya berada dalam maqam amar ma’ruf nahi munkar.


Sementara itu, Ketua LD PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin menjelaskan jika dakwah yang dilakukan jangan hanya melalui offline tapi juga secara online agar cepat menyebar tersampaikan ke warga NU yang jauh dari jangkauan. 


“Juga dalam dakwah harus dibatasi menurut kewenangan lembaga dakwah sendiri, tentunya program-program tentang dakwah,” tutur Gus Aab, sapaan akrabnya.


Dakwah mengunakan metode offline maupun online juga harus sesuai dengan sekmentasi warga masyarakat NU yang beragam. Untuk masing-masing segmen ini memerlukan metode-metode sendiri. 


"Seperti jika di kampung misalnya berarti ya masih menggunakan metode ceramah,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin Jember, Jawa Timur itu.


“Kita tentunya tetap berprinsip yang dibahas disini secara global tapi untuk pelaksanaannya kita sesuaikan dengan kondisi riil pada lokasi masing-masing. Dengan itu kita akan menemukan pola dakwah yang akan dilaksanakan oleh seluruh dai,” imbuhnya.


Gus Aab berharap pertemuan Rakernas IX LD PBNU itu menjadi ajang silatul arham yang berlanjut menjadi silatul afkar atau konsolidasi pemikiran dan ide untuk memperkuat khidmah jamiyah dan menguatkan khidmah jamiyah lil ummah.


“Dari silatul afkar ini kita akan bersama-sama untuk mengonsolidasikan diri membentuk silatul af’al yaitu konsolidasi gerakan yang nyata dalam melaksanakan tugas-tugas yang ditugaskan oleh NU di berbagai tingkatan baik dari PBNU sampai ke PCNU di seluruh dunia bahkan di tengah masyarakat,” pungkas Gus Aab. 


Pewarta: Wiwit Musaadah
Editor: Aru Elgete
 


Editor:

Nasional Terbaru