• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Jumat, 19 April 2024

Dari Betawi

Harlah 1 Tahun NU Online Jakarta

Bubur Ase, Kuliner Betawi yang Istimewa dan Langka

Bubur Ase, Kuliner Betawi yang Istimewa dan Langka
Ilustrasi: Bubur Ase khas Betawi (foto: Instagram.com/dunialoka.id).
Ilustrasi: Bubur Ase khas Betawi (foto: Instagram.com/dunialoka.id).

Betawi menjadi sebuah etnik dengan jumlah penduduk yang mendominasi wilayah Jakarta. Menurut sejarawan Sagiman MD, penduduk Betawi telah mendiami Jakarta sejak zaman batu baru atau Neoliticum, yaitu 1500 SM. Artinya, jauh sebelum menjadi ibu kota negara, suku Betawi telah bermukim di kota Jakarta. Betawi memiliki keragaman budaya, kultur, bahasa, hingga kuliner. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh bangsa Arab, Portugis, India, Cina, dan Belanda.


Salah satu kuliner unik nan langka dari Betawi yaitu bubur Ase. Bahkan tidak semua orang Betawi, khususnya generasi muda mengenal sajian kuliner khas satu ini. Mengapa demikian? karena saat ini tidak banyak penjual bubur Ase di wilayah Jakarta. 


Meskipun terbilang langka dan penjualnya terus berkurang, bukan berarti penjual bubur Ase mustahil ditemukan. Beberapa penjual yang cukup terkenal dengan bubur Ase berada di daerah Kebon Kacang, Tanah Abang, dan Pasar Gandaria. 


Dulu, bubur Ase dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Betawi Tengah. Akulturasi di wilayah Betawi Tengah cukup banyak disebabkan dahulu menjadi pusat pemerintahan VOC. 


Bubur Ase berbeda dengan bubur nasi pada umumnya. Bubur Ase istimewa karena bubur nasinya disantap bersama kuah Ase yang manis gurih dan asinan yang asam segar. Ase atau kuah Ase merupakan akronim dari Asinan-Semur. Kuah Ase ini berisi potongan daging dan kentang. Namun, terkadang beberapa penjual menambahkan telur dan tahu yang disesuaikan dengan selera pembeli. Semur yang kaya akan rempah seperti merica, pala, cengkih, dan jahe sehingga membuat bubur Ase ini memiliki cita-rasa yang nikmat dan otentik. 


Selain kuah dan semur, bubur Ase ini juga dapat disantap bersama asinan sayuran. Isian asinan sayuran dapat bervariasi, mulai dari mentimun, sawi asin, lobak, taoge, hingga lokio. Beragamnya sayuran yang digunakan dalam bubur Ase ini sebenarnya mencerminkan multikultural kebudayaan masyarakat Betawi. 


Bubur Ase juga dapat dinikmati bersama sate. Tidak hanya sate asem khas Betawi yang terbuat dari daging sapi, sate ati ampela juga bisa menjadi pendamping dalam semangkuk bubur ini. Penambahan taburan kerupuk, kucai, teri goreng, kacang tanah goreng, kacang kedelai goreng, dan bawang merah goreng juga dapat menambah lezatnya sajian kuliner ini. 


Meskipun bahan dalam pembuatan bubur Ase terbilang mudah ditemukan, tapi perlu keahlian khusus dalam membuatnya, terutama dalam membuat bubur. Konsistensi bubur yang baik yaitu tidak encer dan teksturnya halus. 
Bubur Ase dikenal dengan sebutan ‘bubur dingin’, karena penyajiannya boleh dalam kondisi dingin tapi kuah Ase dan semur dituangkan dalam kondisi hangat. Bubur Ase dapat dinikmati kapan saja, misalnya saat sarapan pagi. 


Bahkan, sajian kuliner ini dihidangkan juga dalam upacara-upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang melimpah, antara lain saat bayi lahir, selamatan kelahiran tujuh bulan, dan sedekah bumi atau upacara baritan. Bubur Ase menjadi pilihan menu yang nikmat dan sehat padat gizi. 


Untuk mencegah hilangnya bubur Ase di kalangan masyarakat, dibutuhkan berbagai upaya dan dukungan dari Pemerintah Kota Jakarta, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta para penikmat kuliner Nusantara untuk mempromosikan sajian bubur yang sudah langka ini. Semakin banyak orang yang mengenal bubur Ase, maka akan semakin banyak wisatawan yang tertarik untuk mencicipi kuliner khas Betawi ini. 

Sumber:


Muliani, L. (2019). Potensi Bubur Ase Sebagai Daya Tarik Wisata Kuliner Jakarta. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata, 1(1), 50-56. https://ojs.stiami.ac.id/index.php/DESTINESIA/article/viewFile/553/354.

Purbasari, M. (2010). Indahnya Betawi. Humaniora, 1(1), 1-10. https://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/view/2142.


Artikel di atas merupakan karya dari Annisa Khoirina, peserta lomba artikel dalam rangka Harlah 1 Tahun NU Online Jakarta.


Dari Betawi Terbaru