• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Jumat, 19 April 2024

Nasional

Soroti Aksi Sawer Qoriah, JQHNU DKI Jakarta: Tidak Ada Adabnya

Soroti Aksi Sawer Qoriah, JQHNU DKI Jakarta: Tidak Ada Adabnya
Qariah saat membaca Al-Quran tengah disawer. (Foto: tangkapan layar video yang diunggah di kanal Youtube Yanto Photo pada Kamis (20/10/2022)).
Qariah saat membaca Al-Quran tengah disawer. (Foto: tangkapan layar video yang diunggah di kanal Youtube Yanto Photo pada Kamis (20/10/2022)).

Jakarta, NU Online Jakarta
Menyoroti aksi sawer terhadap qori'ah yang sedang membaca al-Quran di Tanggerang, Banten, Rais Pimpinan Wilayah (PW) Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) DKI Jakarta KH Zarkasyi Ishaq menganggap perbuatan saweran tersebut sangat tidak beradab.

 

"Masalahnya, aksi saweran itu tidak ada adab," katanya saat di wawacarai NU Online Jakarta, pada Jumat (06/01/2023). 

 

Kiai Zarkasyi menyayangkan perbuatan tersebut karena tidak sesuai dengan tradisi yang ada di Indonesia, apalagi uang itu sampai dilempar ke muka dan disisipkan ke dalam kerudung.

 

"Berkaca ke timur tengah, ada tradisi seperti ini. Tapi kita di Indonesia jangan mengikuti tradisi dan aturan yang salah," terangnya.

 

Sawer uang seperti itu, lanjut Kiai Zarkasyi, dianggap bukan seperti mendengarkan al-Quran. Tapi seperti dalam pesta hajatan atau dangdutan.

 

"Maka lebih baik untuk mendengarkan dan memahami kalam Allah, bisa lebih santun lagi," kupasnya.

 

Senada dengan pernyataan Kiai Zarkasyi, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Samsul Ma'arif menganggap sama perbuatan tersebut tidak memiliki adab.

 

"Dari sisi adab ketika ada seseorang membaca Al-Quran itu kan perintahnya fastami'u lahu (mendengarkan yang sedang membaca), harus betul-betul mendengarkan," katanya saat di wawacarai NU Online Jakarta, pada Jumat (06/01/2023). 

 

Kiai Samsul, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa ada adab yang perlu diperhatikan saat seseorang sedang membaca al-Quran. Bahwa saweran itu bisa dimaksudkan sebagai rasa kegembiraan seseorang untuk memberikan apresiasi, namun harus dengan cara yang beradab tanpa melecehkan. 

 

"Keliru pada waktunya saja, seseorang memberikan saweran itu kan bisa jadi bagian dari rasa kegembiraan seseorang ingin memberikan apresiasi kepada orang yang membaca, tapi tidak boleh melecehkan, kalau mau saweran ya saweran saja taruh di tempat tertentu," lanjutnya. 

 

Di samping itu, Sekretaris PWNU DKI Jakarta Gus Bahauddin secara terang membenarkan dua pernyataan diatas.

 

"Padahal yang dibaca ini adalah kalimat sakral, kalimat suci, kalimatullah. Apa yang disabdakan Rasulullah, sehingga sangat tidak elok apabila orang yang membaca al-Quran, disawer," pungkasnya.

 

Pewarta: Haekal Attar
Editor: Herly Ramadhani


Nasional Terbaru