• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Selasa, 28 Mei 2024

Jakarta Raya

LF PWNU Jakarta: Hilal di Masjid KH Hasyim Asyari Tidak Terlihat

LF PWNU Jakarta: Hilal di Masjid KH Hasyim Asyari Tidak Terlihat
Pemantauan Hilal di Masjid KH Hasyim Asyari Jakarta. (Foto: NU Online Jakarta/Haekal Attar)
Pemantauan Hilal di Masjid KH Hasyim Asyari Jakarta. (Foto: NU Online Jakarta/Haekal Attar)

Jakarta, NU Online Jakarta

Ketua Lembaga Falakiyyah (LF) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Abdul Kholik Soleh melaporkan bahwa hasil rukyat tidak terlihat di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Cengkareng, Jakarta Barat, Ahad (10/3/2024).


Dalam laporan tersebut, Kiai Kholik menyatakan bahwa data hisab menunjukkan bahwa pada konjungsi  Pukul 16:01 WIB, matahari diprediksi terbenam pada pukul 18:07 dengan Azimut Matahari sebesar 266° 03’, sementara Bulan terbenam pada pukul 18:12 dengan Azimut Bulan sebesar 264° 48’. Tinggi toposentris hilal pada saat konjungsi adalah 00° 41’ dengan elongasi geosentris sebesar 002° 29’.


Perlu diketahui bahwa Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta Barat tersebut memiliki koordinat -006° 09’ 32” LS dan 106° 42’ 56” BT dengan ketinggian 20 meter di atas permukaan laut.


Lebih dari itu, sebelum pemantauan Kiai Kholik mengatakan bahwa langit di Jakarta mendung, hal tersebut dapat mempengaruhi pemantauan hilal yang dilakukan. "Sementara ini kita bisa melihat langit sedang tidak cerah atau mendung. Tentunya ini menjadi bagian dari bukti-bukti yang akan kita laporkan nanti ke Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)," katanya kepada NU Online.


Melihat adanya potensi perbedaan, Ketua LF PWNU DKI Jakarta KH Abdul Kholik berpendapat, dalam penentuan awal Ramadhan dengan mengikuti hasil sidang isbat oleh Kemenag RI itu menjadi sangat penting sebagai semangat pemersatu untuk mengambil keputusan bersama. 


"Jadi pada prinsipnya kami hanya memantau dan melaporkan seluruh hasilnya, yang memutuskan adalah pemerintah," tegasnya. 


Jauh sebelum itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyampaikan hasil prediksi posisi hilal pada 29 Sya'ban 1445 H yang bertepatan dengan 10 Maret 2024. Ia mengatakan bahwa hilal penentu 1 Ramadhan 1445 H diprediksi hampir tidak akan dapat terlihat di seluruh wilayah di Indonesia pada 10 Maret 2024. 


"Dari hasil rukyat pun, tanggal 10 (Maret) belum ada yang berhasil sehingga diperkirakan pada tanggal 10 saat Magrib tidak ada hilal yang terlihat dan belum memenuhi visibilitas hilal," ujar Thomas di kantor BRIN, Jakarta, pada Jumat (8/3/2024).


Menurut Thomas, posisi bulan di wilayah Timur Indonesia secara umum masih negatif dan dianggap terlalu rendah, sehingga tidak memenuhi kriteria untuk dapat melihat hilal. 


Thomas menjelaskan bahwa tinggi bulan di Indonesia hanya sekitar 1 derajat atau kurang, sementara elongasinya hanya 1,7 derajat. Kedua nilai tersebut jauh di bawah kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada tahun 2021, yakni ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. 


"Wilayah yang memenuhi kriteria MABIMS pada 10 Maret 2024 setelah matahari terbenam hanya wilayah benua Amerika Serikat. Sementara itu, wilayah Asia Tenggara belum terpenuhi," jelas dia. 


Berdasarkan data tersebut, pemerintah Indonesia diprediksi bakal menetapkan awal Ramadhan 2024 pada 12 Maret 2024. Penetapan ini berbeda dengan Muhammadiyah yang telah mengumumkan 1 Ramadhan 1445 H jatuh pada 11 Maret 2024. 


Penulis: Haekal Attar
Editor: Khoirul Rizqy At-Tamami


Jakarta Raya Terbaru