• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Selasa, 28 Mei 2024

Opini

Refleksi Harlah PMII Ke-64 Tahun: Pertajam Kaderisasi

Refleksi Harlah PMII Ke-64 Tahun: Pertajam Kaderisasi
Erlangga Abdul Kalam, Ketua Cabang PMII Jakarta Timur. (Foto: NU Online Jakarta).
Erlangga Abdul Kalam, Ketua Cabang PMII Jakarta Timur. (Foto: NU Online Jakarta).

April akan selalu menjadi bulan yang bersejarah dan istimewa bagi warga pergerakan di seluruh dunia, sebab tanggal 17 April adalah hari lahirnya organisasi besar bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).


PMII merupakan organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, diketahui PMII kini memiliki 230 Cabang di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, pada priode-priode berikutnya jumlah Cabang yang ada akan terus bertambah melalui proses akselerasi kaderisasinya. Mengingat, PMII adalah organisasi yang ruh nya berbasis pada kaderisasi.


Resiko sebagai organisasi kaderisasi, pelaku organisasi (struktural, kultural) dituntut untuk selalu mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sebab, jika pelaku organisasinya tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman, PMII akan menjadi organisasi tertinggal. Saat PMII menjadi organisasi tertinggal, bisa dipastikan dalam 5 sampai 10 tahun kedepan, kita tidak akan lagi bisa melihat dan mendengar organisasi PMII di Indonesia. Kongkretnya, menolak beradaptif sama hal nya dengan menggali kuburan bagi setiap pelaku organisasi sendiri.


"Jika setiap orang ada zamannya, maka setiap zaman ada orangnya dan setiap orang melahirkan peradabannya."


Sederhananya, yang ingin saya utarakan dari pernyataan di atas, jangan takut atau ragu untuk melakukan hal baru dalam organisasi yang dapat menopang progresifitas proses anggota dan kader, takutlah saat kita tidak berani melakukan proses dan mengambil langkah apapun di dalam organisasi. Sejatinya, resiko akan selalu ada diantara kedua pilihan, jadi pilihlah yang nilai positifnya paling banyak.


Sekilas kalau kita merefleksikan kembali awal mula tujuan dari organisasi PMII didirikan. Tidak lain, tujuannya adalah untuk menjawab tantangan zaman. Karena menjawab tantangan zaman, maka setiap gerakannyapun harus terus senantiasa disesuaikan dengan perubahan zamannya. Tidak boleh monoton, apalagi pasif. Sebab makna sesungguhnya dari diksi Pergerakan yang dihadirkan di dalam organisasi PMII meminta kita untuk selalu bergerak secara dinamis.


"Hakikat hidup adalah bergerak, seseorang dikatakan hidup apabila ia bergerak, sebap pergerakan adalah simbol dari kehidupan. Salam Pergerakan!"


Usia semakin bertambah, perkembangan semakin maju dan tantangan generasi juga semakin berbeda. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hidup di era pergerakan perkembangan dan kemajuan teknologi digital itu memang susah-susah gampang. Tapi sebagai kelompok intelektual, terlebih insan organisatoris seharusnya mampu merubah setiap hambatan menjadi sebuah tantangan. 


Realitasnya, saat ini kita sedang berada pada zaman dimana informasi terbuka dengan sangat pesat dan cepat, dunia seakan berada didalam genggaman saat kita mampu memaksimalkan kemajuan teknologi. Kendati demikian, dibalik fenomena tak terbendungnya arus informasi, ruang kompetitif kita pada masa mendatang juga pasti akan semakin ketat.


Oleh karena semakin ketatnya ruang kompetisi kita, maka dalam rangka menyiapkan sekaligus menyambut era bonus demografi atau Indonesia Emas yang digadang-gadang akan terjadi di Indonesia pada 2030 - 2045 mendatang, penting kiranya bagi kita sebagai warga pergerakan untuk terus memperkuat intelektualitas, menambah wawasan, menggali potensi, mengasah kapasitas, mempertajam kapabilitas, inovasi dan kreatifitas setiap anggota dan kader sebagi modal dalam menghadapi ruang kompetisi yang jauh lebih tinggi. Menjadi kader PMII selain dituntut untuk menjadi multidimensi, mesti juga profesional.


Tentu saja, formula kaderisasi yang dilakukan organisasi mesti diperbaharui. Minimal saat ini, kajian dan gerakan PMII harus terukur, terarah dan berbasis pada gerakan inovatif kontemporer yang relevan dengan situasi dan kondisi terkini. Disaat yang bersamaan kajian dan gerakan yang berbasis pada konservatif juga kalau masih relate dan relevan wajib untuk dipertahankan.


Mengapa mesti ada pembaharuan formula kaderisasi? "Sebab saya percaya, dalam beberapa tahun ke depan ruang persaingan kita bukan lagi sesama manusia, bukan lagi sesama kader, tetapi manusia melawan mesin. Saat mesin berhasil mengambil alih dunia, hancurlah dunia peradaban kita. Mesin yang saya maksud itu robot atau Artifical Intelegence (AI)".


Dengan adanya formula kaderisasi yang terus diperbaharui oleh setiap pelaku organisasi, upaya PMII dalam menjawab tantangan zaman itu akan terwujud. Outputnya, paling tidak mampu mengantarkan kader menjadi pemimpin-pemimpin baru.


Banyak pemimpin-pemimpin baru yang dilahirkan dari organisasi PMII, saya percaya bahwa itu semua dihasilkan berkat skema kaderisasi di PMII yang memiliki dasar ideologi yang kuat.


64 Tahun bukanlah usia yang muda bagi organisasi PMII. 64 Tahun itu kalau dianalogikan dengan umur manusia, kurang lebih usia sedemikian sudah beranjak pada usia yang sangat dewasa.


Sebagai pemilik usia yang sangat dewasa sekali, tentu diharapkan mampu menjadi representasi bagi organisasi kemahasiswaan lainnya. Selain itu, gerak dan langkah yang dilakukan PMII juga mesti mampu memberikan kontribusi kebermanfaatan. Terkhusus untuk anggota dan kader di dalam organisasinya sendiri.


Akhirnya, dengan penuh rasa syukur, bahagia dan bangga saya mengucapkan: Selamat Hari Lahir Pergerakanku yang Ke-64 Tahun, 64 Tahun mengabdi untuk Indonesia.


Setengah abad lebih PMII berdiri, banyak prestasi yang sudah ditorehkan oleh PMII dan tercatat di dalam perubahan serta perkembangan bangsa Indonesia. "Untukmu Satu Tanah Airku, Untukmu Satu Keyakinanku".


Penulis: Erlangga Abdul Kalam, Ketua Cabang PMII Jakarta Timur.
Editor: Haekal Attar
 


Opini Terbaru