• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Jumat, 19 April 2024

Jakarta Raya

Moderasi Beragama di Era Digital: Menyulam Kerukunan di Dunia Digital yang Bermakna

Moderasi Beragama di Era Digital: Menyulam Kerukunan di Dunia Digital yang Bermakna
Pemanfaatan narasi keagamaan dalam politik identitas menjadi sebuah risiko nyata dalam dunia digital. (Foto: Artificial Intelligence)
Pemanfaatan narasi keagamaan dalam politik identitas menjadi sebuah risiko nyata dalam dunia digital. (Foto: Artificial Intelligence)

Dalam era digital yang kaya akan informasi, narasi keagamaan menjadi unsur penting yang dapat diakses secara bebas oleh masyarakat global. Namun, ironisnya, kebebasan tersebut kadang-kadang disalahgunakan oleh sejumlah kelompok untuk memperkeruh suasana, menciptakan konflik, dan menguatkan politik identitas. Fenomena ini, yang mencakup pudarnya afiliasi terhadap lembaga keagamaan, pergeseran otoritas keagamaan, penguatan individualisme, dan transformasi dari pluralisme ke tribalisme, menjadi tantangan kritis yang perlu diatasi. Dalam konteks ini, pengarusutamaan moderasi beragama di dunia digital bukan hanya mendesak, melainkan juga menjadi momentum penting untuk membentuk dunia digital yang lebih harmonis dan inklusif.


Paradigma perubahan pudarnya afiliasi dan pergeseran otoritas keagamaan dunia digital telah mengubah cara masyarakat terlibat dengan agama. Pudarnya afiliasi terhadap lembaga keagamaan tradisional menjadi fenomena yang dapat diamati secara global. Individu kini lebih cenderung mencari informasi keagamaan melalui sumber-sumber online daripada melibatkan diri dalam komunitas keagamaan fisik. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri, karena otoritas keagamaan yang sebelumnya bersumber dari pemimpin agama dan lembaga keagamaan, kini bervariasi dan dapat dipengaruhi oleh berbagai narasi yang tersebar di dunia digital.


Ancaman terhadap kerukunan merupakan penguatan politik identitas dan individualisme pemanfaatan narasi keagamaan dalam politik identitas menjadi sebuah risiko nyata dalam dunia digital. Kelompok tertentu menggunakan platform online untuk menguatkan identitas keagamaan sebagai alat politik. Dalam situasi seperti ini, individualisme semakin diperkuat, dan nilai-nilai keberagaman dapat terancam. Penting untuk mengidentifikasi bagaimana politik identitas yang terkait dengan agama dapat mengancam kerukunan dan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat.


Perubahan paradigma dari pluralisme ke tribalisme merupakan kemajuan teknologi dan dunia digital seharusnya menjadi kekuatan yang menyatukan, namun pada kenyataannya, kita menyaksikan transformasi paradigma dari pluralisme ke tribalisme. Kelompok-kelompok online semakin membentuk ekosistem mereka sendiri, seringkali di luar norma-norma keberagaman yang ada. Masyarakat cenderung mengidentifikasi diri dengan kelompok-kelompok yang memiliki pandangan serupa, menciptakan gelembung informasi yang memperkuat tribalisme dan mengurangi pemahaman lintas kelompok.


Dalam urgensi pengarusutamaan moderasi beragama di dunia digital dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, pengarusutamaan moderasi beragama di dunia digital menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kerukunan dan toleransi. Langkah-langkah konkret perlu diambil untuk menanggapi tantangan ini:


1. Edukasi dan Kesadaran Digital


Kampanye edukasi online yang fokus pada nilai-nilai moderasi beragama dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya toleransi dan dialog antarumat beragama. Pendidikan digital juga dapat membantu masyarakat memahami peran mereka dalam membangun lingkungan online yang positif.


2. Kebijakan dan Tindakan Tanggap


Platform media sosial perlu mengimplementasikan kebijakan yang tegas terhadap konten yang merangsang konflik dan memicu polarisasi. Selain itu, respons yang cepat dan tindakan tanggap terhadap konten yang merugikan adalah langkah kritis untuk mencegah penyebaran narasi intoleran.


3. Dialog Antarumat Beragama


Inisiatif untuk mendorong dialog antarumat beragama di dunia digital dapat menjadi jembatan untuk memahami perspektif yang berbeda. Forum online yang aman dan inklusif perlu dibentuk untuk memfasilitasi pertukaran pemikiran yang konstruktif.


4. Konten Positif dan Edukasi Keagamaan


Mendukung produksi dan penyebaran konten online yang positif dan mendidik tentang keberagaman agama dapat membentuk narasi yang mendukung kerukunan. Konten ini dapat mencakup cerita inspiratif, informasi tentang praktik keagamaan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai beragama.


5. Literasi Digital dan Keterampilan Kritis


Pelatihan literasi digital perlu diprioritaskan untuk membantu masyarakat mengenali konten yang bersifat intoleran, mengidentifikasi manipulasi informasi, dan memahami dampak sosial dari interaksi online. Keterampilan kritis ini menjadi penting untuk membentuk individu yang dapat berpikir kritis dalam menghadapi informasi keagamaan yang kompleks.


6. Peran Pemimpin Agama dan Tokoh Masyarakat


Pemimpin agama dan tokoh masyarakat perlu memainkan peran aktif dalam mempromosikan moderasi beragama di dunia digital. Mereka dapat menyampaikan pesan perdamaian, kerukunan, dan toleransi melalui platform online mereka, membentuk arah positif bagi para pengikutnya.


Menghadapi Tantangan dengan Optimisme


Meskipun tantangan moderasi beragama di dunia digital kompleks, kita dapat menghadapinya dengan optimisme. Dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, perusahaan teknologi, pemimpin agama, dan masyarakat sipil, kita dapat membentuk dunia digital yang mencerminkan nilai-nilai keberagaman, menghargai perbedaan, dan menyuarakan perdamaian. Melalui pendidikan, dialog, dan langkah-langkah konkrit, kita dapat mengubah arah dan menjadikan dunia digital sebagai sarana untuk merajut kerukunan, bukan untuk merusaknya.


Sumber:

Pew Research Center. (2019). "Religion in Indonesia: Support for Sharia Law".
Badan Pusat Statistik DKI Jakarta. (2021). "Statistik Lingkungan Hidup DKI Jakarta 2021".
Hasan, N. (2019). "Pentingnya Pendidikan Agama di Era Digital".
The Conversation. (2022). "From Pluralism to Tribalism: How Social Media Enables Identity Politics".
United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC). (2021). "Guiding Principles of the UNAOC Plan of Action for Promoting Intercultural and Interfaith Dialogue".
Digital Literacy. (2021). "Digital Literacy: What It Is and Why It Matters".


Penulis: Haekal Attar
Editor: Khoirul Rizqy At-Tamami
 


Jakarta Raya Terbaru