• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Jumat, 19 April 2024

Opini

Nabi Muhammad Teladan Toleransi Warga Jakarta

Nabi Muhammad Teladan Toleransi Warga Jakarta
Ilustrasi keberagaman dan toleransi (Foto: Freepik.com).
Ilustrasi keberagaman dan toleransi (Foto: Freepik.com).

Jakarta Timur, NU Online Jakarta


Di tengah gemerlap dan keriuhan Jakarta, terhampar sebuah kisah indah tentang toleransi yang diilhami oleh ajaran Nabi Muhammad. Kisah ini bukan hanya sekadar cerita, melainkan menjadi sumber inspirasi bagi warga Jakarta dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang dipenuhi keberagaman. Ajaran Islam tentang toleransi, kebaikan, keadilan, dan hidup harmonis tanpa memandang perbedaan agama, bahasa, dan ras terasa hidup dan tercermin dalam setiap interaksi warga Jakarta.


Dalam menjalankan prinsip toleransi ini, warga Jakarta mengambil pedoman dari nilai-nilai Al-Qur'an, khususnya surat al-Mumtahanah ayat 8-9. Ayat suci tersebut menegaskan bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memerangi mereka dalam urusan agama. Warga Jakarta menginternalisasi nilai-nilai adil dan kebaikan, menyadari bahwa sikap ini harus diterapkan kepada semua individu tanpa memandang latar belakang agama yang dianut. Demikian juga sebuah hadist Nabi Muhammad yang melarang umatnya selalu menggelorakan hidup dengan penuh toleransi:


مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا 


“Barangsiapa yang membunuh non-Muslim yang terikat perjanjian dengan umat Islam, maka ia tidak akan mencium keharuman surga. Sesungguhnya keharuman surga itu bisa dicium dari jarak 40 tahun perjalanan di dunia.” (H.R. Bukhari).


Penerapan konsep toleransi ini tidak hanya terbatas pada hubungan antarwarga Muslim, melainkan meluas hingga ke interaksi dengan non-Muslim di tengah masyarakat Jakarta yang penuh keberagaman. Sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, warga Jakarta memperlakukan orang-orang non-Muslim dengan santun dan menghormati hak-hak mereka. Tindakan toleransi ini tercermin dalam kebijakan pembangunan kota yang mencerminkan perhatian terhadap keberagaman dan kepentingan semua warganya.


Sejarah menyimpan kisah tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW bersikap santun dan toleran terhadap orang-orang Yahudi dan munafikin di Kota Madinah setelah hijrah. Warga Jakarta mengambil contoh sikap beliau yang memperlakukan semua lapisan masyarakat dengan keadilan dan kesantunan, tanpa memandang perbedaan agama atau suku. Sikap saling menghormati ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta, yang dengan bangga mengakui keberagaman sebagai kekayaan dan kekuatan bersama.


Melansir NU Online Berbagai hadis sahih menjelaskan dengan rinci sikap toleransi yang dipegang teguh oleh Nabi saat berhadapan dengan individu non-Muslim di sekelilingnya. Sebagai contoh, terdapat kisah mengenai Nabi yang menggadaikan baju perangnya kepada Abu Syahm, seorang Yahudi. Begitu juga, dalam interaksi dengan tamu-tamu perempuan Yahudi, Nabi menunjukkan sikap yang baik, serta memberikan keramahan ketika menyambut orang-orang Nasrani Najran di Masjid Nabawi, sebagaimana yang tercatat dalam riwayat Ibn Ishak dan Ibn Sa’ad.


Meski demikian, Imam Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub 2005-2016 menegaskan bahwa sikap toleransi yang dimaksud dalam konteks ini hanya terkait dengan urusan dunia yang tidak berkaitan dengan masalah akidah dan ibadah. Toleransi dalam konteks ini mencakup situasi di mana seorang Muslim melibatkan diri dalam sebagian upacara atau ritual non-Muslim, seperti yang dilakukan oleh Yahudi, Kristen, dan penganut agama lainnya, baik dalam perkataan, tindakan, maupun keyakinan. Akan tetapi, toleransi semacam itu dianggap sebagai tindakan yang dilarang. Meskipun demikian, sejumlah ulama kontemporer memberikan izin untuk tindakan-tindakan tertentu, seperti mengucapkan selamat hari raya kepada non-Muslim, asalkan individu Muslim yang bersangkutan tidak meyakini kebenaran ajaran agama yang mereka anut.


Namun, dalam menerapkan konsep toleransi, warga Jakarta juga memahami batasan yang ada. Toleransi yang diimplementasikan tidak pernah melibatkan pengorbanan nilai-nilai akidah dan ibadah dalam Islam. Warga Jakarta dengan bijak memahami konteks toleransi ini, menjaga kekhusyukan ajaran agama dan memegang teguh kebenaran Islam. Meskipun bersikap terbuka terhadap perbedaan, warga Jakarta tetap kokoh pada keyakinan agama yang mereka anut.


Sebagai bukti nyata akan sikap toleransi, warga Jakarta tidak hanya mengikrarkan janji, tetapi secara aktif menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kota ini menjadi contoh nyata harmoni antarumat beragama, di mana setiap interaksi dan kebijakan mencerminkan rasa hormat terhadap keberagaman dan nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jakarta menjadi tempat di mana keberagaman tidak hanya diakui, tetapi juga dihayati dalam setiap lapisan masyarakatnya.


Kota ini menjadi panggung bagi warga Jakarta untuk menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya retorika, melainkan gaya hidup yang diterapkan dengan penuh kesadaran. Setiap sudut kota menjadi saksi bisu akan kerukunan antarumat beragama yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan bekerja sama. Jakarta bukan hanya sekadar nama kota, tetapi sebuah wadah di mana nilai-nilai agama dan toleransi menjadi pondasi kuat bagi kehidupan masyarakatnya.


Dengan segala kompleksitasnya, Jakarta tetap menjadi contoh bahwa keberagaman tidaklah menjadi sumber konflik, melainkan kekuatan bersama yang memperkaya setiap aspek kehidupan. Warga Jakarta, dengan kepala tegak dan hati terbuka, terus menapaki jalan toleransi yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Jakarta tidak hanya menjadi ibu kota yang modern dan maju, tetapi juga sebuah refleksi hidup harmonis yang terus berkembang di tengah keberagaman yang membingkai setiap langkahnya.


Editor: Haekal Attar


Opini Terbaru