• logo nu online
Home Warta Nasional Jakarta Raya Dari Betawi Keislaman Sejarah Opini Literatur Obituari
Kamis, 29 Februari 2024

Dari Betawi

Harlah 1 Tahun NU Online Jakarta

Nilai Luhur dari Si Manis Dodol Betawi

Nilai Luhur dari Si Manis Dodol Betawi
Dodol makanan khas Betawi, (Foto: NU Online)
Dodol makanan khas Betawi, (Foto: NU Online)

Makanan tiap daerah tentu memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari bentuk, cita rasa, warna hingga teksur bahan yang digunakan dalam pembutannya. Berbicara makanan Indonesia adalah berbicara tentang sejarah, mitos, cerita leluhur, tradisi unik masyarakat maka bukan hanya soal rasa saja yang diwariskan tetapi nilai-nilai kearifan lokal bagi generasi yang patut dimaknai dan dilestarikan. 


Negara kita terkenal dengan beragam suku budaya, Bahasa, agama, etnis, termasuk juga makanan khas masing-masing daerah, hal ini membuktikan bahwa adanya keberagaman yang tetap terjaga. Kondisi geografislah yang membuat terjadinya perbedaan hasil bumi sehingga menyebabkan jenis makanan khas setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda pula, salah satunya adalah dodol khas Betawi.


Diidentikan dengan simbol status sosial dalam berbagai perayaan ada sebutan yang identik dengan dodol seperti Nian Gao atau kue keranjang, Jenang, Lempok, Gelinak dan masih banyak lagi yang pastinya tiap daerah punya nama unik tersendiri.


Dodol Betawi merupakan makanan khas suku Betawi yang berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa yang lebih sedikit daripada dodol di daerah lain seperti ketan hitam, ketan putih dan durian. Terkenal dengan pembuatan yang lumayan lama, biasanya dodol Betawi dibuat saat acara khusus seperti pesta pernikahan, saat menjelang hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Dikutip dari situs resmi kemendikbud proses pembuatan dodol memerlukan waktu yang tidak sebentar dan perlu kesabaran terutama saat proses mengaduk dodol tersebut. 


Bahan baku pembuatan dodol antara lain yaitu ketan, gula pasir, gula merah dan santan. Bahan- bahan tersebut harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar dengan menggunakan panci kuali besar berdiameter 1 meter atau mereka menyebutnya sebagai “keneng” yang terbuat dari tembaga oleh pengrajin Cirebon,lalu diaduk dengan spatula yang besar selama kurang lebih delapan jam tanpa henti agar tekstur dodol tidak keras dan rasanya merata. Mengapa tidak menggunakan mesin saja atau gas sebagai pengganti kayu bakar? Dikarenakan makna dan esensi tradisional dari dodol Batawi akan hilang apabila tergantikan dengan gas dan juga mesin pengaduk dodol. Menurut beberapa pendapat masyarakat bahwa pengadukan tradisional membuat dodol buatannya menjadi lebih nikmat dibandingkan dengan bantuan mesin.


Penganan khas Jakarta ini, keberadaannya sudah mulai langka hal ini terjadi karena harga bahan dasar yang kurang terjangkau, proses pembuatan yang lama, hingga pengalaman pembuatan yang memungkinkan hasil rasanya bisa berbeda. Makanan khas ini memiliki makna gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan yang tersirat pada saat proses pembuatannya. Mulai dari mengaduk bahan sampai membeli bahan-bahannya dapat mempererat hubungan kekeluargaan, ada yang bertugas menumbuk ketan dan juga memarut kelapa sebagaian yang lainnya menyiapkan api dan mengaduk dodol. Keluarga Betawi yang tinggal berdekatan, mereka akan patungan untuk membeli seluruh bahan yang disiapkan oleh para kaum perempuan sedangkan untuk pengadukan adonan dilakukan bersama-sama oleh para kaum laki-laki. Jika sudah matang maka kaum wanita akan membantu membagi adonan sama rata. 


Meski butuh delapan jam lamanya, justru pada proses pengadukan secara bergantian penuh canda dan tawa. Menurut budayawan Betawi, bapak Yahya Andi Saputra menjelaskan peminat kue kudapan ini sebenarnya banyak dan pengusaha dodol tradisional ini sudah lebih banyak dibandingkan beberapa tahun yang lalu. kue yang popular saat lebaran ini memiliki filosofi yang religius artinya manusia tidak bisa memisahkan diri dari kekuatan campur tangan Tuhan. Pemilihan bahan pembutannya pun memiliki arti yaitu penggunaan beras ketan melambangkan keeratan dan kebergantungan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) sebab, beras ketan membuat makanan menjadi lengket dan susah dipisahkan. Melihat dari sisi kehidupan social, dodol Betawi disebut sebagai kue silaturahmi, sebab dodol wajib dihidangkan saat acara pernikahan Idul Fitri dan Idul Adha.


Tradisi pembuatan dodol perlu dilanjutkan karena merupakan warisan budaya nenek moyang yang memiliki nilai luhur dan semakin berkembangkan peradaban modern dodol Betawi semakin terkikis sejarahnya. Padahal hal ini sudah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelastarian Kebudayaan Betawi yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, namun penerapan aturan ini belum maksimal dikarenakan sosialisasi yang kurang dimasyarakat.


Artikel di atas merupakan karya dari Tazkiya Nufusa Aghnia, peserta lomba artikel dalam rangka Harlah 1 Tahun NU Online. 


Dari Betawi Terbaru